14 Maret 2011

Mimpi Raya

Mimpi Raya

Akhir-akhir ini Raya sering terjaga oleh mimpi buruk yang belakangan kerap menghantui tidurnya.  Pernah suatu hari dalam mimpinya Ia mendengar sebuah teriakan. Ia rasakan itu berasal dari suara yang mirip Ayah! Raya kaget dan langsung terbangun dengan keringat membasahi sekujur tubuh.  Sambil mengatur nafas,  dicobanya menenangkan diri sedapat mungkin. Sembari mengingat-ingat bahwa hal serupa  pernah Ia alami  juga sebelumnya di pagi hari. Ya, pagi hari ketika Ia tengah terlelap tidur bersama pacarnya.

Mungkin Ayah mencoba membangunkannya. Ayah dari alamnya, mencoba memberitahu bahwa sudah saatnya bangun menjalani rutinitas nyata, saatnya jogging demi kesehatan paru-paru, saatnya mandi, saatnya bersiap kuliah, dan saatnya menghentikan semua kegilaan ini. Karena sejak hari itu, takkan pernah ada lagi dering telepon dari Ayah dan suaranya di pagi hari yang pasti Ia rindukan.

Sudah 2 bulan lamanya Ayah Raya beristirahat dalam tidur panjang yang nyenyak. Ayah meninggal tepat 3 hari setelah ulang tahunnya  yang ke 45 tahun. Tidak ada penyebab logis kematian Ayah yang bisa di terima dan dimengerti olehnya. Semuanya serba mendadak. Mengagetkan semua orang yang mengenal keluarganya. Tidak hanya teman-teman kantor Ayah, tetapi juga  teman kerja, tetangga rumah, teman kuliah  S1, teman SMA, bahkan mantan pacar waktu SMA.

Masih segar dalam ingatan Raya saat-saat kebersamaan keluarganya. Kala itu Ia merasa amat bahagia. Hari raya  tahun ini terasa berkesan karena Ayah selalu menghabiskan waktunya di rumah bersama Raya, Ibu, dan Adik. Tak ada lagi tidur di luar rumah. Tak ada lagi percekcokan mulut dengan Ibu. Semuanya kembali normal. Bahkan lebih indah. Perhatiannya kepada keluarga mulai pulih dan Ibu pun terlihat gembira dan antusias melihat perubahan itu.

Sesekali Ayah menengok Ibu yang sedang memasak di dapur bersama Raya. Tak jarang diselipkannya sepenggal kisah menarik lagi lucu tentang kenalan atau anggota keluarga kami yang lain yang kemudian membuat Raya dan Ibu tertawa. Sampai-sampai tetangga sebelah rumah Raya pernah berkata” Apa yang terjadi dengan kelurga itu? Alangkah bahagianya mereka, bisa tertawa dan bersenda gurau bersama..”.

Sekarang, semua itu tinggal kenangan. Tak ada lagi suara Ayah. Suara batuk-batuknya dipagi hari, suara khasnya membangunkan Raya dan Adik, suara yang memanggil namanya dengan kasih sayang. Gadis atau Yank. Keduanya terdengar indah ditelinga Raya. Sambil termenung ditempat tidur, Raya berfikir, sudahkah Ia membuat Ayah bangga? Sudahkah Ia membahagiakannya?. tak ada yang membantu otaknya menjawab semua itu.

Andai waktu itu Ia belajar lebih keras dan bisa diterima di universitas yang Ayah inginkan…
Andai saat semester 5 kemarin IPK nya sudah mencapai tiga koma…
Andai waktu liburannya lebih banyak dihabiskan di rumah daripada sekedar jalan-jalan ke luar kota bersama teman-teman…
Andai Ia korbankan kuliahnya satu hari demi hadir di acara wisuda Ayah, kemudian berfoto bersama seperti sebuah keluarga…
Andai Ia batal mengganti nama Ayah di contact list telepon genggamnya dari My_Sun menjadi Ayah saja, dan meredam kejengkelan sesaatnya hanya gara-gara merasa diabaikan…
Andai Ia sempat membawakan kue ulang tahun untuk Ayah dan merayakannya bersama-sama…
Andai mereka bisa mempunyai waktu mengobrol lebih banyak…
Andai bisa memeluknya lebih lama…
mencium pipinya sekali lagi…
dan mengatakan kepadanya betapa Ia menyayanginya setiap hari…
Andai…

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentarmu Menunjukan Kualitasmu di Dunia Maya (^_^)

Sandy Corat-coret! © 2012 | Created by Sandy A. | Powered by Blogger.com