07 Mei 2013

Biarkan Dia Bercerita, Kita Mendengarkan

Dalam kehidupanmu mungkin pernah ada orang lain yang datang dan menceritakan keluh-kesahnya kepadamu. Tentang masalah di kampusnya, masalah kantor, masalah keluarga, percintaan atau bahkan mungkin tentang PDKT ke gebetan yang gak ada progresnya.hihi. Tapi pernah gak kamu ada dalam situasi dimana kamu berusaha membantu dengan memberikan solusi dan meyakinkan dia dengan fakta-fakta untuk membantu dia memecahkan masalahnya itu namun dia hanya "Iya bener kata lu, iya juga ya..." tapi tetap saja tidak ada tindakan seperti nasihat yang kita berikan atau bahkan tetep kekeh bahwa yang ia lakukan sudah benar. Hal semacam ini pasti bikin kita geregetan, meski tentu tidak semuanya berperilaku demikian.

Kebetulan saya juga pernah beberapa kali ada dalam situasi ini, Namun lama-lama saya jadi tahu kalau ternyata ada dua kategori tujuan orang menceritakan masalahnya; Pertama, dia hanya membutuhkan orang lain untuk mendengarkan ceritanya. Kedua, dia bercerita untuk mendapatkan solusi. Lantas apakah kita perlu menanyakan "Kamu cuma pengen didenger atau butuh nasihat dari aku?", akan terkesan aneh jadinya. Tapi dengan nada bicara yang pas, kita bisa melakukan itu apabila sedang tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan curhatan yang sudah dipastikan akan panjang-lebar sehingga kita bisa menawarkan waktu lain agar dia bisa lebih puas bercerita. Toh apapun jawabannya kita harus tetap mendengarkan juga kan? hehe.


Sebenarnya cukup mudah untuk membedakannya keduanya, kita hanya cukup mendengarkannya dengan seksama dan menahan diri agar tidak memotong pembicaraan kemudian memberikan nasihat dan solusi. Tapi menjadi pendengar bukan berarti kita harus diam saja seperti patung, melainkan menatap matanya ketika ia sedang berbicara dan menanyakan pertanyaan ringan seperti "kenapa bisa begitu?", "Masa sih sampe gitu?" ketika ia sedang bercerita. 

Gunakan pertanyaan-pertanyaan ringan untuk menggali informasi yang lebih lagi dan kaitkan dengan pengalaman kita ketika berada di posisi yang sama sepertinya sehingga kita bisa mengerti dan memahami benar apa yang ia rasakan dan alami pada saat itu. Berikan perhatian yang tulus dan tahan naluri kita yang terus menggoda untuk memberi nasihat dan solusi sampai dia sendiri yang bertanya. Sebab, tujuan utama menjadi pendengar adalah menjadi sosok yang mengerti dan memahami perasaan yang dialami oleh si pencerita. 

Ketika dia menanyakan hal apa yang sebaiknya dia lakukan untuk menyelesaikan masalahnya, kita tentu sudah tau dong dia tergolong kategori yang Pertama atau yang Kedua. Disinilah saatnya kita memberikan Nasihat dan Solusi yang menurut kita baik untuk dirinya, tapi jangan berlebihan, memaksa atau sok tau ya.hehe. Ingat, tahan naluri kita untuk memotong ceritanya kemudian menjadi penasihat disaat ia sedang bercerita. Sebab kita sering terjebak pada Naluri ini.
Selamat mendengarkan. (^_^)

9 Komentar:

  1. ternyata secara tidak sadar saya sudah melakukan hal2 yang mas tulis diatas.... biarkan selesai bercerita,s etelah itu baru diberi solusi atau nasihat

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, semua orang pasti merasa senang kalo kita dengarkan. mereka merasa kita hargai, dengan begitu kita juga dihargai. hehe

      Hapus
  2. Aku juga pernah melakukan hal yang sama mas, dulu saya pernah bercerita tentang masalah saya sama teman berharap mereka mau membantu dan ngasih solusi jeh malah saya di tertawakan hahahhaaaa
    Niche blog

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah. Masa sampe malah ditertawakan sih. Temennya yang gak peka or ceritanya yg emang lucu mas? hehe

      Hapus
  3. ahahaha.. bener yah, harusnya dengerin aja, biasanya suka geregetan, jadi kecepetan ngasi komentar, padahal belom tentu minta solusi yah, hhihi.. tapi kalo orang ceritanya yang bikin seneng sih lebih sering dengerin aja, komentar secukupnya (tapi kadang-kadang sok2 tertarik sama ceritanya :P)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo ceritanya yg bikin senang harusnya kita antusias dengernya.
      kadang2 sok2 tertarik? hahaha

      Hapus
    2. ups, malah curcol ya, hhahahaha :P

      Hapus
  4. Bisa juga saat kita ingin segera memberi komentar, kita membayangkan bahwa kita memiliki tombol "PAUSE" di dahi kita, sehingga kita bisa menahan diri terlebih dahulu.
    Saya yakin dengan memahami seseorang terlebih dahulu, nantinya kita akan juga dipahami oleh mereka.

    PEACE. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ada tips tambahan ni, thanks ya..:)

      Hapus

Komentarmu Menunjukan Kualitasmu di Dunia Maya (^_^)

Sandy Corat-coret! © 2012 | Created by Sandy A. | Powered by Blogger.com