15 Juli 2013

Kisah Alip

“Seratus ribu!” gumam Alip bersama matanya yang mengembang, “Beneran ini untuk saya bu?” ia masih tidak percaya.
Perempuan itu hanya tersenyum, sedikit mengangguk sambil memandangi wajah sumringah bocah itu.
“Terimakasih bu, terimakasih,” ia meraih tangan perempuan itu dan menciumnya.
Ia kemudian berlari dengan gembira terpancar di wajahnya, hilang semua lelah dan dahaga sebelumnya. Aku akan membelikan ayah sarung dan juga kopiahnya, akan ku beli motif yang sama untukku juga, agar kami kelihatan kompak saat tarawih di mushola, suara Alip dari hati.
***
Lima jam lalu ketika matahari belum terlalu tinggi, Alip mengayuh kakinya dengan semangat, senyum tampak mengembang di wajahnya, saku celana lusuhnya membumbung dan tercipta bunyi koin-koin yang beraradu di tiap langkahnya. Dua puluh empat ribu lima ratus rupiah, jumlah yang sudah ia pastikan sebelumnya, saat mentari belum terbangun di timur pagi, bahkan Alip telah menghitungnya. Ia menyobek kaleng susu yang dijadikannya sebagai tempat menyisihkan uang kertas juga koin-koin hasil jerih payah memulung gelas dan botol plastik sejak sembilan minggu lalu. Pasar hanya tinggal beberapa puluh meter di depan mata, ia ingin mewujudkannya kali ini, menghadiahi Ayahnya sepotong kain sarung.
Tak lama setelahnya ia berdiri di muka sebuah toko kain, memberanikan diri masuk dan menemui seorang karyawati yang sedang membenarkan susunan kain di rak sebelah kiri, rak khusus tumpukan sarung yang menunggu pembeli.
“Berapa harga untuk yang ini?” Alip menunjuk sepotong kain sarung hijau bergaris merah kotak-kotak,
Karyawati itu berenti menyusun sejenak, matanya melirik pada rambut bocah di sampingnya yang pirang sebab sering terjemur terik matahari, kemudian turun memandangi kaos putih yang tak lagi cerah dan celana merah persis seperti yang di kenakan anak-anak setiap berangkat ke Sekolah Dasar, juga telah kusam.
“Itu tiga puluh enam ribu,”
Si karyawati menyusun kain-kain di rak itu kembali.
“Dua puluh empat ribu lima ratus boleh?” tawar Alip
“Di sini harga pas dek, tidak bisa ditawar,” wanita itu kemudian mengarahkan telunjuk kanannya ke tumpukan kain sarung yang terletak tepat di samping kaki kiri Alip, “Itu yang lebih murah, harganya dua puluh delapan ribu. Paling murah diantara sarung merek lain, juga harga pas.”
Sejenak bocah itu terdiam, membalikan badan lalu melangkah menuju pintu keluar. Itu adalah toko kain pertama yang ia datangi, Alip yakin akan menemukan toko yang menjual kain sarung dengan harga lebih murah yang mampu ia beli hari ini.
***
Matahari semakin tinggi, teriknya berkolaborasi dengan asap produksi mesin kendaraan yang merayap terjebak ramainya jalan raya di depan pasar, terdengar juga ramainya bunyi klakson tanda mulai kesalnya para pengendara yang sabarnya sedang diuji.
Sudah keluar masuk toko kain untuk kesekian kali, bocah itu belum juga membawa Sarung yang ingin ia beli. Tidak juga ia temukan toko yang menjual kain sarung seharga paling tidak sama dengan uang di saku celananya. Raut mukanya mulai membentuk mimik putus asa, cacing di perutnya mulai bergemuruh minta diberi makan, dahaga juga hadir di balik lehernya.
Hanya saja, di hari pertama ini tekatnya masih kuat untuk menjalaninya. Menahan diri, termasuk dari makan dan minum hingga saat senandung Adzan berkumandang dari pengeras suara di atap-atap masjid atau di layar televisi senja nanti.
Lelah membuat ia menyandarkan tubuh kurusnya ke teras toko tak berpenghuni, memutar otaknya, mencari cara agar hari ini bisa ia bawa pulang kepada ayahnya sepotong kain sarung baru sebagai pengganti yang terdahulu. Ia tidak ingin lagi melihat ayahnya pergi ke mushola dekat gubuk tempat tinggalnya dengan mengenaka sarung yang penuh tambalan itu lagi.
Terfikirkan olehnya untuk menunda beberapa hari, asal ia mengumpulkan gelas dan botol plastik lebih giat lagi, ia yakin uangnya akan cukup untuk membeli.
Ia relakan keinginan menghadiahi ayahnya di hari ramadhan pertama ini, hari yang tepat dengan ulang tahun lelaki yang ia sayangi itu. Satu-satunya keluarga yang tersisa setelah ibunya wafat terserang demam berdarah delapan belas bulan lalu. Terlambat beberapa hari tidak apalah, pikirnya.
***
Dari ujung lorong pasar terlihat perempuan paruh baya berjalan sendiri, gaya berpakaianya rapih, mengenakan kerudung merah muda lengkap dengan aksesoris seperti bunga mawar purih, gelagatnya seperti sedang dikejar waktu, jelas ada sesuatu yang membuatnya tergesa-gesa.
Alip memperhatikan dengan penuh tanya di kepala, kiranya apa yang membuat perempuan paruh baya itu tergesa-gesa.
Sampai saat perempuan itu tak menyadari ada sesuatu yang terlepas dari pergelangan tangannya, tepat saat ia melintasi tempat Alip melepas lelahnya. Berwarna kuning tua, bentuknya seperti rantai-rantai yang terajut indah, terdapat hiasan seperti batu berwarna hijau sebesar separuh buah cherry. “Gelang!” lirih dari mulutnya, lalu ia beranjak dan memungutnya. Kembali memperhatikan perhiasan yang kini ada di tangannya, tak pernah ia memegang benda sebagus itu sebelumnya.
Sesaat kemudian ia menoleh, mengongak sembari berjinjit tinggi-tinggi mencari kemana perginya perempuan tadi. Tak terlihat lagi, hilang diantara ramainya manusia yang hilir-mudik dan mereka yang sedang bertransaksi.
Tanpa pikir dua kali, nurani bocah kumel itu menuntun langkah kaki telanjangnya untuk berlari, meliak-liuk diantara pundak dan ketiak orang dewasa di pasar itu, mencari kemana perginya si pemilik gelang yang ia simpan erat di genggamannya kini.
Di persimpangan ia jadi bimbang memilih arah mencari, kanan atau kiri, atau mungkin terus lurus saja, bingung ia dibuatnya. Ia melihat sebuah meja kosong di sudut toko dekat persimpangan itu, lalu naik berdiri di atasnya. Ia melihat kearah kiri, secermatnya ia mengamati, sayang tak terlihat perempuan berkerudung merah jambu. Ia geser pandangannya lurus jauh ke depan, tak juga ia melihatnya. Ke arah kanan,  ia mencari dengan lebih cermat lagi, “itu dia!” serunya. Ia melompat dan berlari mendekati perempuan yang kini sedang berbicara pada seorang lelaki di teras sebuah toko beras.
“Bu!,” Alip terengah-engah sambil memegang dada.
Sejenak perempuan itu menghentikan pembicaraanya, ia melongok, “Ada apa nak?” ramahnya dengan penuh tanya.
“ini gelang ibu tadi terjatuh”
Reflek perempuan itu memegang pergelangan tangan dimana gelang itu seharusnya berada, “Astafirllohaladzim…terimakasih ya nak,” ia tersenyum, memandangi anak manusia berpakaian lusuh yang berdiri di hadapannya, lelah pun masih terlihat jelas dari nafas bocah itu yang terengah.
“Namamu siapa nak?” sambil perempuan itu memegang pundak Alip
“Saya Alip bu,”
“Terimakasih ya nak Alip…”
Alip menganggukan kepala, lalu memutar badannya untuk segera meninggalkan perempuan itu,
“Tunggu nak! Ini untukmu, tanda terimakasih dari ibu,” selembar kertas merah ia berikan pada Alip, bocah yang telah mengembalikan perhiasan hadiah ulang tahun dari suaminya empat puluh delapan jam yang lalu.
“Seratus ribu!”.

4 Komentar:

  1. Subhanallah... Merinding saya bacanya.
    Terimakasih Alip, sudah memberikan pelajaran sangat berharga sore ini :)

    Slamat ulang tahun juga untuk ayahnya Alip yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya ibunya Alip.. hahaha :p

      Hapus
  2. wahhh keren si alip....
    pelajaran berharrga untuk kita,,,

    BalasHapus

Komentarmu Menunjukan Kualitasmu di Dunia Maya (^_^)

Sandy Corat-coret! © 2012 | Created by Sandy A. | Powered by Blogger.com