Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

31 July 2013

[Dialog] Konferensi Binatang

Di bawah pohon Ulin siang ini terlihat ramai, binatang yang hadir sedang seru-serunya membahas Manusia yang selalu mengejar dan merampas apa saja dari mereka.

"Populasi kami semakin sedikit!" teriak Badak dan Gajah bersamaan.

"Mereka mencabut Cula kami!" lanjut Badak.

"Kami di tembaki hingga setengah mati, setelahnya Gading kami juga di cabutnya!" timpal Gajah.

"Mereka memukuli kami," Monyet menangis,"Di bawah terik Matahari kami mereka paksa menari-nari, memakai topeng, naik Egrang dan sebentuk Motor yang mereka buat dari kayu, mereka menarik-narik rantai di leher kami agar kami punguti kertas dan koin yang dilemparkan dari atas kendaraan, jika kami lelah, mereka memberi kami obat penambah tenaga yang seharusnya hanya untuk manusia."

Selanjutnya giliran Cendrawasih yang berbicara.

"Mereka mengambil bulu kami yang indah, mereka jadikan hiasan di rumah-rumah, tinggal sedikit dari kami yang tersisa, andai mereka paham bahasa kami, tentu kami akan sampaikan jikala kami lebih suka menghiasi Nusantara ini ketimbang dinding-dinding rumah mereka," Cendrawasih diam sejenak, "Di perjalananku ke sini tadi aku melihat Hiu terdampar di Pantai, sirip-siripnya tak lagi melekat di badannya, Hiu terisak dan mengatakan padaku bahwa Manusia akan mendapatkan uang banyak dengan membuat Siripnya menjadi Sup,"

Cendrawasih terus melanjutkan ceritanya,

15 July 2013

Kisah Alip

“Seratus ribu!” gumam Alip bersama matanya yang mengembang, “Beneran ini untuk saya bu?” ia masih tidak percaya.
Perempuan itu hanya tersenyum, sedikit mengangguk sambil memandangi wajah sumringah bocah itu.
“Terimakasih bu, terimakasih,” ia meraih tangan perempuan itu dan menciumnya.
Ia kemudian berlari dengan gembira terpancar di wajahnya, hilang semua lelah dan dahaga sebelumnya. Aku akan membelikan ayah sarung dan juga kopiahnya, akan ku beli motif yang sama untukku juga, agar kami kelihatan kompak saat tarawih di mushola, suara Alip dari hati.
***
Lima jam lalu ketika matahari belum terlalu tinggi, Alip mengayuh kakinya dengan semangat, senyum tampak mengembang di wajahnya, saku celana lusuhnya membumbung dan tercipta bunyi koin-koin yang beraradu di tiap langkahnya. Dua puluh empat ribu lima ratus rupiah, jumlah yang sudah ia pastikan sebelumnya, saat mentari belum terbangun di timur pagi, bahkan Alip telah menghitungnya. Ia menyobek kaleng susu yang dijadikannya sebagai tempat menyisihkan uang kertas juga koin-koin hasil jerih payah memulung gelas dan botol plastik sejak sembilan minggu lalu. Pasar hanya tinggal beberapa puluh meter di depan mata, ia ingin mewujudkannya kali ini, menghadiahi Ayahnya sepotong kain sarung.
Tak lama setelahnya ia berdiri di muka sebuah toko kain, memberanikan diri masuk dan menemui seorang karyawati yang sedang membenarkan susunan kain di rak sebelah kiri, rak khusus tumpukan sarung yang menunggu pembeli.
“Berapa harga untuk yang ini?” Alip menunjuk sepotong kain sarung hijau bergaris merah kotak-kotak,
Karyawati itu berenti menyusun sejenak, matanya melirik pada rambut bocah di sampingnya yang pirang sebab sering terjemur terik matahari, kemudian turun memandangi kaos putih yang tak lagi cerah dan celana merah persis seperti yang di kenakan anak-anak setiap berangkat ke Sekolah Dasar, juga telah kusam.
“Itu tiga puluh enam ribu,”
Si karyawati menyusun kain-kain di rak itu kembali.
“Dua puluh empat ribu lima ratus boleh?” tawar Alip
“Di sini harga pas dek, tidak bisa ditawar,” wanita itu kemudian mengarahkan telunjuk kanannya ke tumpukan kain sarung yang terletak tepat di samping kaki kiri Alip, “Itu yang lebih murah, harganya dua puluh delapan ribu. Paling murah diantara sarung merek lain, juga harga pas.”
Sejenak bocah itu terdiam, membalikan badan lalu melangkah menuju pintu keluar. Itu adalah toko kain pertama yang ia datangi, Alip yakin akan menemukan toko yang menjual kain sarung dengan harga lebih murah yang mampu ia beli hari ini.

13 June 2013

Dialog

"Dasar anak Setan!"

"Om Sok tau, ayah saya tidak punya tanduk, ibu juga. 
Warna kulit mereka pun tidak merah seperti yang ada di film kartun"

"Iya, kelakuanmu itu yang kayak Setan!"

"Memangmya om punya teman Setan?"

".....Maksudmu?!"

"Bagaimana om tau tingkah laku setan?"

...............

"Atau om bisa melihat Setan? om tidak takut? bukankah tampangnya menyeramkan?
kalo saya sih sudah pasti teriak sejadi-jadinya, menangis,
memanggil ibu sambil terbirit-birit lari om"

"Anjing! Diam kamu! anak kecil sudah berani ngelawan sama orang tua!"

"Tadi om nuduh saya anak Setan, sekarang Anjing. 
Bagaimana mungkin sepasang setan melahirkan seekor anjing?"

................

"Hahahahahahahahahahahahahahahahaha"

"Kenapa lu ketawa?"

"Makanya jangan asal bunyi. Anak sekarang udah pada pinter,
harus dihargai meskipun dia masih bocah.
kalo gini bingung jawabnya kan lu bro...? hahaha"

"...Lagian cuma masalah kecil gitu aja, gak usah pake emosilah"

"Haha...Setan, yaudah yuk kita cabut aja"

14 March 2011

Mimpi Raya

Mimpi Raya

Akhir-akhir ini Raya sering terjaga oleh mimpi buruk yang belakangan kerap menghantui tidurnya.  Pernah suatu hari dalam mimpinya Ia mendengar sebuah teriakan. Ia rasakan itu berasal dari suara yang mirip Ayah! Raya kaget dan langsung terbangun dengan keringat membasahi sekujur tubuh.  Sambil mengatur nafas,  dicobanya menenangkan diri sedapat mungkin. Sembari mengingat-ingat bahwa hal serupa  pernah Ia alami  juga sebelumnya di pagi hari. Ya, pagi hari ketika Ia tengah terlelap tidur bersama pacarnya.

Mungkin Ayah mencoba membangunkannya. Ayah dari alamnya, mencoba memberitahu bahwa sudah saatnya bangun menjalani rutinitas nyata, saatnya jogging demi kesehatan paru-paru, saatnya mandi, saatnya bersiap kuliah, dan saatnya menghentikan semua kegilaan ini. Karena sejak hari itu, takkan pernah ada lagi dering telepon dari Ayah dan suaranya di pagi hari yang pasti Ia rindukan.

Sudah 2 bulan lamanya Ayah Raya beristirahat dalam tidur panjang yang nyenyak. Ayah meninggal tepat 3 hari setelah ulang tahunnya  yang ke 45 tahun. Tidak ada penyebab logis kematian Ayah yang bisa di terima dan dimengerti olehnya. Semuanya serba mendadak. Mengagetkan semua orang yang mengenal keluarganya. Tidak hanya teman-teman kantor Ayah, tetapi juga  teman kerja, tetangga rumah, teman kuliah  S1, teman SMA, bahkan mantan pacar waktu SMA.

Masih segar dalam ingatan Raya saat-saat kebersamaan keluarganya. Kala itu Ia merasa amat bahagia. Hari raya  tahun ini terasa berkesan karena Ayah selalu menghabiskan waktunya di rumah bersama Raya, Ibu, dan Adik. Tak ada lagi tidur di luar rumah. Tak ada lagi percekcokan mulut dengan Ibu. Semuanya kembali normal. Bahkan lebih indah. Perhatiannya kepada keluarga mulai pulih dan Ibu pun terlihat gembira dan antusias melihat perubahan itu.

Sesekali Ayah menengok Ibu yang sedang memasak di dapur bersama Raya. Tak jarang diselipkannya sepenggal kisah menarik lagi lucu tentang kenalan atau anggota keluarga kami yang lain yang kemudian membuat Raya dan Ibu tertawa. Sampai-sampai tetangga sebelah rumah Raya pernah berkata” Apa yang terjadi dengan kelurga itu? Alangkah bahagianya mereka, bisa tertawa dan bersenda gurau bersama..”.

Sekarang, semua itu tinggal kenangan. Tak ada lagi suara Ayah. Suara batuk-batuknya dipagi hari, suara khasnya membangunkan Raya dan Adik, suara yang memanggil namanya dengan kasih sayang. Gadis atau Yank. Keduanya terdengar indah ditelinga Raya. Sambil termenung ditempat tidur, Raya berfikir, sudahkah Ia membuat Ayah bangga? Sudahkah Ia membahagiakannya?. tak ada yang membantu otaknya menjawab semua itu.

Andai waktu itu Ia belajar lebih keras dan bisa diterima di universitas yang Ayah inginkan…
Andai saat semester 5 kemarin IPK nya sudah mencapai tiga koma…
Andai waktu liburannya lebih banyak dihabiskan di rumah daripada sekedar jalan-jalan ke luar kota bersama teman-teman…
Andai Ia korbankan kuliahnya satu hari demi hadir di acara wisuda Ayah, kemudian berfoto bersama seperti sebuah keluarga…
Andai Ia batal mengganti nama Ayah di contact list telepon genggamnya dari My_Sun menjadi Ayah saja, dan meredam kejengkelan sesaatnya hanya gara-gara merasa diabaikan…
Andai Ia sempat membawakan kue ulang tahun untuk Ayah dan merayakannya bersama-sama…
Andai mereka bisa mempunyai waktu mengobrol lebih banyak…
Andai bisa memeluknya lebih lama…
mencium pipinya sekali lagi…
dan mengatakan kepadanya betapa Ia menyayanginya setiap hari…
Andai…

31 January 2011

Bukan Cinta

Hari Jumat, saat angkot yang distir Udin melewati sebuah Mini Market tiba-tiba.
“Kiri payuun…!!”
Teriak Yanti dengan nada tidak terlalu keras dari dalam angkot meminta Sopir untuk berhenti, kemudian ia turun dan mengeluarkan dua  lembar uang seribu dan memberikannya ke sopir.
“Nuhun Neng…” Si sopir berterimakasih dan mengijak gas kembali.
“Gila, Seksi banget tu cewe, mau banget sama dia” dalam hati udin.

Najarudin saefuliani alias Udin Sopir, pemuda berkulit putih agak tampan berumur 24 tahun ini sebenarnya pria yang baik, banyak punya teman dan juga seorang pekerja keras. Hanya saja uang yang ia dapat dari pekerjaannya menjadi sopir angkot itu kadang ia gunakan untuk mabuk-mabukan. Hampir setiap Selasa, Rabu dan Kamis malam ia bisa di temui sedang menegak minuman keras dengan teman-temanya di depan toko bangunan SUMBER MAKMUR milik koh Akiong, tapi pada hari Jumat dan Sabtu ia akan sangat semangat cari uang.

Ketika angkotnya berhenti di lampu merah perempatan Buah Batu, Udin memanggil seorang pedagang asongan.
“Kang Super 2 batang!”
Udin mengacungkan selembar uang ribuan dan lima keping uang receh kepada pedagang berompi kuning dengan sebuah kotak yang menggantung di dadanya.
 “Kumaha penumpang?”
Basa-basi si pedagang sambil mengambil dua batang rokok dari kotak di dadanya.
“Lumayan kang…dua rit deui’ Insyaallah setoran ketutup…Korek na kang”
“Ari sabar mah pasti bisa…” Ucap pedagang itu lalu meminjamkan korek api kepada Udin.
Tiiiiiittt!!!! Tiiiiiiiiiiiiittttt!!!!!
Bunyi klakson mobil JAGUAR hitam dengan Velg lebar mengkilap yang berada di belakang angkot bercat kusam yang dikendarai Udin, member tanda agar sopir muda itu segera menginjak pedal gasnya kembali karena lampu hijau telah menyala.
“Nuhun kang!” Udin tergesa-gesa sembari mengembalikan korek api.
“Mangga..! Mangga..!” Saut si pedagang berompi kuning itu.
*****

“Jadi semuanya Rp 30.350…ada lagi yang lain ibu?” dengan ramahnya Yanti dari balik meja kasir.
“Udah itu aja!” Seorang ibu setengah baya dan memberikan selembar uang Rp 50.000.
“Uangnya Rp 50.000 ya bu…”
Yanti kemudian membuka laci kasir, mengambil sejumlah uang dan memberikanya kepada si ibu sambil tersenyum
“Trimakasih ibu…Semoga datang kembali…”
Sambil ia tetap tersenyum walau ibu tersebut kemudian pergi begitu saja tanpa sepatah kata.
Pada siang hari Yanti berkerja di Mini Market yang terwaralaba atas nama H. Dumawi Sarifin Saini. Wanita berumur 26 tahun ini memiliki tinggi badan yang tidak terlalu tinggi, tubuhnya seksi, ada yang bilang bodinya lebih aduhai dari artis wanita Aura Kasih. Bagaimana tidak...bokong bohay, langsing dan rambutnya yang hitam membuat banyak pria meliriknya, bahkan sering membuat pelanggan pria di Mini Market itu sengaja berlama-lama di depan meja kasir karena terpana dengan dada Yanti yang terlihat kencang menantang itu! 
Pantas saja, tidak jarang pria bahkan dari ABG sampai Kakek-kakek pun terpana kepada wanita bernama lengkap Himayanti ini, terutama pada bagian yang satu itu. Siapa yang sangka jika Yanti adalah seorang ibu beranak satu.
Iya...Yanti yang seksi itu telah memiliki satu orang anak laki-laki.
Agak miris ceritanya...
Ia diperkosa oleh anak majikanya ketika masih menjadi pembantu rumah tangga di Surabaya. Mungkin Ronald, anak majikanya itu tidak tahan melihat tubuh seksi  wanita yatim piatu itu atau mungkin memang Ronaldnya saja yang brengsek!
Awalnya Ronald memberi Yanti sebotol minuman, ia bilang itu oleh-oleh untuk Yanti dari Jakarta, padahal telah dicampur semacam obat tidur. Bodohnya Yanti tak sedikitpun curiga kepada majikannya tersebut.
Manjur memang, beberapa menit saja setelah Yanti meminumnya ia sudah hampir tak sadarkan diri dan tanpa buang waktu Ronald segera melucuti pakaian yang membungkus tubuh aduhai Yanti dan mulai menggrayangi pembantunya tersebut dari betis sampai ke bagian dada. Sampai akhirnya Yanti kehilngan keperawanannya setelah Ronald dengan leluasa menari-nari di atas tubuh perempuan yang tak terbungkus sehelai kain pun di atas sofa merah di rumah mewah itu, pada waktu itu hanya ada mereka berdua.
Waktu itu Yanti hanya bisa berontak dari dalam hati saja, sebab ia yang setengah tak sadarkan diri itu telah dibuat tak berdaya oleh kualitas obat yang di dapat Ronald dari teman kampusnya.
Ironisnya Yanti justru diusir ketika ia mengadukan kelakuan Ronald kepada majikannya. Ia justru dituduh menggoda Ronald ketika sedang ditinggal majikannya menunaikan Ibadah Haji. Yanti juga ditawari uang sepuluh juta rupiah agar ia menggugurkan kandungan dan pergi pulang kampung ke Ciamis, tempat Yanti di lahirkan.
“Oalah Yanti… kamu ini ya!! Jadi Perempun ko Kegatelan!! Awakmu pasti godain mas Ronald waktu Bapak dan Ibu pergi ke Mekah kan??!’ ….Ngaku Ora kuwe Yanti!!!!”
Masih ingat betul Yanti dengan kata-kata sang majikan kepadanya waktu itu.
Sebenarnya Yanti sempat juga ngotot meminta Ronald untuk bertanggungjawab dan menikahinya, tapi semakin ia ngotot semakin keras pula majikanya mencacimaki dirinya.
Alhasil Yanti hanya bisa pasrah, ia terima sepuluh juta itu dari majikannya dan pergi dari rumah Mewah itu. “Yah..daripada tak dapat apa-apa lebih baik saya terima aja uang itu, kan lumayan bisa buat biaya makan dan sewa kontrakan nantinya konyol Yanti mencoba realistis dalam hati.

Aldi Subarkah, anak laki-laki yang sekarang duduk di kelas satu SD ini mungkin tidak akan pernah melihat dunia jika saja dulu Yanti memutuskan untuk menggugurkan kandungannya. Untungnya setelah Yanti meninggalkan Surabaya dan pergi ke Bandung, Yanti memilih untuk tetap merawat kandungnya hingga melahirkan anak laki-laki itu.
Alasan Yanti tidak kembali ke Ciamis karena ia tak punya lagi keluarga yang peduli dengannya setelah Orangtuanya meninggal sembilan tahun lalu. Ia nekat pergi ke Bandung untuk mencari pekerjaan baru dan menyewa sebuah rumah kontrakan di daerah Bojongsoang, H. Dumawi Sarifin Saini mau menerimanya bekerja di Salah satu Mini Marketnya.
Yanti sangat menyayangi anaknya, setiap pagi ia menyiapkan segalanya untuk Aldi ke sekolah, bahkan ia hampir selalu menghantarkan anaknya itu hingga gerbang sekolah.
Pernah suatu malam ketika Yanti sedang mengajari Aldi  menyelesaikan PR sekolahnya, ia terkejut ketika sang anak menanyakan soal Ayahnya.
“Bunda…Ayahnya Aldi dimana sih bun…?”
Tanya Aldi dengan wajah yang polos kepada ibunya.
Yanti terdiam seakan tak percaya dengan yang terucap dari mulut anaknnya tersebut.
“Dimana Bunda Ayahnya Aldi…?” Tanya Aldi lagi.
“Ayah Aldi lagi kerja jauh…cari uang buat beliin aldi sepatu yang baru sayang….”  Yanti berbohong.
“Tapi Kok ayah gak pernah pulang bun…?” Anak itu masih penasaran.
“Iya…Soalnya Ayah Aldi kerjanya kan Jauh….nanti kalo udah punya duit yang banyak pasti nanti ayah Aldi pulang sayang…” Yanti mencoba meyakinkan anak laki-lakinya.
“Aldi juga mau dibeliin Sepeda yang kaya punya Adit ya bu…biar kalo sekolah Aldi naik sepeda, jadi gak dianterin bunda lagi..jadi bunda gak cape...” Aldi mulai percaya.
Yanti melihat jam dinding telah menunjukan pukul 21.38 lalu sambil memeluk Aldi Ia berkata. “Iya sayang…Nanti pasti dibeliin sama ayah...udah sekarang Aldi kerjain lagi PR nya. abis itu tidur biar besok gak kesiangan sekolahnya…”.
*****

Wajah Udin terlihat ceria sabtu sore ini, dia seperti ketiban rezeki nomplok hari ini, penumpang ramai sekali, belum lagi dia dapat carteran menghantarkan Ibu-ibu pengajian ke sebuah masjid besar di jalan Cipaganti. Rp. 375.000 belum termasuk uang setoran ke pemilik angkot sudah ditangannya.
Ketika Udin sedang ngopi di warkop mang Jaja, sebuah warung kecil tempat biasa para sopir nongkrong saat istirahat.
“Wuih…ketiban bulan maneh Din?!...Cerah Euy..” Sapa Romli teman Udin sesama sopir yang juga teman mabuknya.
“Alhamdullilah Rom….rejeki mah teu kamana…haha!”
“Gaya maneh Din…Urang juga lumayan Din, sembilan enam lah setelah setor mah…maneh kumaha din?? Dua ratus nya’?” Romli lagi.
Udin mengangkat segelas kopi yang ia pesan dan meminumnya, kemudian ia menjawab.
“kalau sudah setor ke si Bos…Tiga Ratus Lima lah masuk kantong…”
“Itu si banyak atu din!!” Romli dengan nada agak tinggi.
“Hahaha….!!!“ Udin tertawa.
“Berarti nanti malam berangkat atu kalo gitu….!!” Ucap Romli.
Dengan pasti Udin menjawab temannya itu.
“Atu iya….si Deni ajak sekalian, biar letoy dia nanti malam!! Hahahahahaha!!!”
“Siiiippp…..!!“
Romli mengambil korek dari atas meja dan menyulut rokok di bibirnya.
*****

Sabtu malam Jam 22.49 di depan Warkop mang Jaja.
“Kamana sih si Udin?? Janjian jam sepuluh tapi jam segini gak nongol-nongol tu jurig!!”
“Ahh...atu Si Udin mah emang suka telat Den, minggu kemarin wae telat sejam waktu janjian jeng aing” Ucap Romli kepada Deni.
Malam ini Udin dan kedua temannya telah membuat janji untuk pergi ke suatu tempat untuk menikmati hasil kerjanya beberapa hari sebelumnya.
Mereka akan menikmati hasil kerjanya tersebut di Saritem!
Iya, Seperti biasa. Pada hari Jumat dan Sabtu Udin selalu semangat mencari uang dengan menyopir angkot milik Bos Malik hanya untuk pergi ke Saritem.
“Sori cuy….Agak telat…! hehehe” Udin cengar-cengir sembari berjalan menghampiri Deni dan Romli.
“Anying maneh cengar-cengir Din!!” Sahut Deni
“Atu enggeslah hayu berangkat…! nanti dapet sisa lagi kaya minggu kemaren!”
ajak Romli untuk segera berangkat.
“Siap Mister Romli…!” Udin dengan ceria.
Mereka pun berangkat menuju Saritem dengan menggunakan angkot Haji Abdullah yang tak lain adalah bos si Romli.
Dua puluh menit kemudian telah terlihat beberapa kendaraan terparkir dengan rapih di pinggiran jalan. Ada juga mobil sedan yang terparkir di sana, motor dan beberapa angkot pun ada.
“Parkir di sebelah mobil eta wae Rom…!!” Pinta Udin agar Romli memarkirkan angkotnya di samping mobil SUV berplat B tersebut.
Tak lama kemudian Romli pun memarkirkan angkotnya.
“Rame Pisan Euy…!” Deni sambil melihat sekitar.
“Maneh sih Din pake ngaret segala!” Romli menyalahkan Udin.
Dengan santai Udin menjawab
“Tenang wae atu…Pasti kebagian…”
“Telpon kang Makrub wae kumaha?” Usul Romli untuk menelpon seorang mucikari yang beberapa kali membantu mereka.
“Ulah…itu orangnya saja kelihatan...”
Udin sambil menunjukan jarinya ke arah kang Makrub yang berada tidak jauh dari mereka.
“Atu ayo samperin aja kalo gitu...”
Romli sepertinya sudah tak tahan untuk segera bertempur.
Mereka pun berjalan mendekati kang Makrub yang sedang menikmati sebatang rokok kretek di bibirnya itu.
“Kang kumaha damang?” Udin menyapa kang Makrub.
“weit…maneh jang, alhamdullilah sehat!” kang Makrub sedikit kaget.
“Rame pisan nya kang…?” Udin Berbasa-basi.
“Iya jang, tapi masih ada ko’ jang…tenang aja sama kang Makrub mah…” Ternyata kang Makrub sudah tau apa maksud si Udin.
“Ari tilu aya kang?” Tanya Romli.
“Aya…tinggal maunya kalian aja gimana?” kang Makrub memberikan berita bagus.
“Si Melly bisa gak Kang?” Romli menanyakan ketersediaan Melly, wanita favoritnya itu.
“Melly baru aja masuk sama anak Jakarta yang bawa mobil silver itu jang, Yuni mau? Atau si Eka aja gmn? Gak kalah sama Melly jang si Eka mah…”
Tawar kang Makrub memberi alternatrif kepada Romli.
“Oh si Eka? Okelah kang...Eka mah mantab!” Romli mantap karena sebelumnya ia pernah dibuat geleng-geleng dengan Melly.
“Ari Yuni montok sih urang jeng Yuni waelah kang” Deni kepada kang Makrub.
“Siip jang…Si Yuni mah TOGEPASAR jang! Ulah kuatir maneh…”
mucikari itu memastikan kepada Deni bahwa Yuni sesuai dengan keinginannya.
Kemudian kang Makrub menanyai Udin yang belum juga punya pilihan.
“Maneh kumaha Din??”
“Yang lain siapa lagi kang? Kalo bisa mah yang belum pernah di booking malam ini kang, jadi masih segerrr…hehehe!” Udin mengutarakan yang ia inginkan.
“Mmmmmmm…..siapa ya jang ya?” Mucikari berkulit coklat tua itu sambil mengerutkan jidatnya.
“………Si Susan kayanya mah jang yang belum di bawa masuk, alias masih fresh malem mini” Kang Makrub memberi tawaran beberapa saat kemudian.
“Geulis te’ kang?” Udin penasaran.
“Atu Geulis jang….Koleksi kang makrub mah gak ada yang gak cantik atuh…si Susan teh baru masuk sini jang” Kata kang Makrub.
“Pantes baru denger sekarang namanya susan kang…perawan tah kang?” Tanya Udin.
“Atu nggak jang…! dia teh pindahan dari Karoke di dalem kaung…baru empat hari disini, sebelumnya dia juga pernah di salon daerah PVJ kabarnya sih jang. tapi kurang tau kenapa pindah kesini…Pengalaman lah pokoknya jang!, gimana? Mau enggak??” kang Makrub memastikan.
“Ya udahlah kang kalo gitu, daripada keduluan yang lain...” Udin memutuskan.
“Mangga jang…!!” ajak si mucikari kepada Udin, Romli dan Deni ke salah satu rumah disekitar situ.
”Tarif masih kaya biasanya kan kang?” Tanya Romli memastikan.
“Iya...tenang...”
Tanpa basa-basi Deni dan Romli langsung masuk ke kamar yang telah disediakan setelah mereka bertemu dengan pasangan masing-masing, mereka terlihat sudah tak tahan lagi. Sedangkan Udin harus menunggu sebentar di ruang depan karena wanita yang ia pilih sedang ke toilet.
Beberapa saat kemudian Udin tercengang seakan tak percaya ketika Susan datang, ia ingat jelas bahwa Susan adalah wanita yang tempo hari menjadi penumpangnya dan turun di depan Mini Market dekat lampu merah Buah Batu itu. Benar, Susan ternyata adalah Himayanti alias Yanti alias si kasir sexy yang bekerja di Mini Market milik H. Dumawi Sarifin Saini. Ia pun duduk di sebelah Udin.
“Kamu teh bukanya yang kerja di Mini Market dekat perempatan Buah batu y?” Udin sambil mengerutkan heran.
“Aa’ ko tau Susan kerja di sana?” jawab Yanti sambil merebahkan kepalanya di pundak Udin.
“Aa’ inget aja… kan kamu teh kalo berangkat kerja suka naek angkot Aa’…” Jawab Udin.
Dengan entengnya Yanti menjawab, “Iya A’…Susan teh emang kerja sampingan di sana… kalo cuma ngandelin penghasilan dari sini sih masih gak cukup A’… palingan cuma bisa buat makan sama bayar kontrakan aja, belum untuk yang lain, untuk beli bedak, lipstik sama lain-lainnya.”
Yanti menopangkan dagunya ke pundak Udin.
 “kan kalo kerja begini mah kadang dapet pelanggan kadang enggak A’...” Basa-basi wanita itu lagi.
Setelah puas berbincang akhirnya mereka bangkit dari sofa merah itu, berjalan bergandengan bak sepasang kekasih, menuju ke sebuah kamar bernomor delapan. Yanti mengunci pintu,  mereka berada dalam ruangan yang hanya berisi dipan ukuran kecil lengkap dengan kasur yang terbungkus seprei bermotif bunga-bunga serasi dengan sebuah bantal di atasnya, hingga akhirnya mereka mulai saling menyapa lewat sentuhan nafsu tanpa rasa cinta.
Sandy Corat-coret! © 2012 | Created by Sandy A. | Powered by Blogger.com