Tentu bukan saya yang lulus UN kali ini, karna itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu.hehe. Namun fenomena LULUS/TIDAK LULUS ini memang selalu menarik untuk di angkat, sebab ketika hasil pengumuman dalam amplop itu bertuliskan LULUS maka rasa dag-dig-dug-dor yang sempat bikin tidak nyaman menjelang hari kelulusan itu berubah 180 derajat membuat kita berekspresi sejadi-jadinya, senangnya bukan main. Mereka yang dinyatakan lulus berekpresi seakan tidak akan menghadapi lagi yang namanya tes masuk Perguruan Tinggi, lalu berpelukan, saling mengucap selamat, ada yang menangis haru, kemudian melakukan tradisi[?] corat-coret seragam sekolah, saya juga dulu melakukannya dan entah mengapa ini sangat menyenangan. Mungkin ini yang membuat Pelajar menghiraukan intruksi Kepala Sekolah untuk tidak corat-coret seragam, meski mungkin sadar bahwa seragan tersebut bisa diberikan ke orang yang lebih membutuhkan. Gimana dengan kalian?
Pada era sekarang tentu mereka tidak hanya berekpresi di dunia nyata, tapi juga di dunia maya, di jejaring sosial. Sudah tentu Facebook, Twitter dan BBM menjadi tempat utama mereka mengekpresikan itu, ada juga yang mengunggah momen menyenangkan itu ke Instagram atau Path.
Pada era sekarang tentu mereka tidak hanya berekpresi di dunia nyata, tapi juga di dunia maya, di jejaring sosial. Sudah tentu Facebook, Twitter dan BBM menjadi tempat utama mereka mengekpresikan itu, ada juga yang mengunggah momen menyenangkan itu ke Instagram atau Path.
Semua siswa di sebuah Sekolah dinyatakan lulus 100%, Semua pun berbahagia bersama dan melakukan hal-hal seperti di atas dengan gembira. Namun bagaimana jika ada siswa yang TIDAK LULUS? bagaimana perasaan mereka ketika melihat teman-temannya tertawa bahagia merayakan kelulusan di halaman sekolah? Sedih, hancur, mental drop, seakan masa depannya telah dihancurkan dengan hasil Ujian Nasionalnya itu. Kemudian ditengah gelak tawa senang, teman-teman itu baru menyadari jika ia mengeluarkan air mata kesedihan...karena tidak lulus ujian nasional, mereka mendekatinya, mencoba menenangkannya bersama guru yang sudah bersamanya sebelumnya, memotvasi sebisanya, berbicara lembut sambil mengelus punggungnya. lalu teman yang lainya pun ikut menghampiri dan melakukan hal yang hampir sama, mendadak semua menjadi motivator yang berbicara lembut sambil mengelus punggungnya untuk menenangkannya. Semua tampak peduli, sebelum akhirnya berjalan pergi dan tetap tidak bisa merubah hasil Ujian Nasionalnya.





